CuPUW's Fish Pool (-,-a

Minggu, 03 Januari 2010

Dampak Negatif Televisi Terhadap Perkembangan dan Motivasi Belajar Anak pada Tahap Praoperasi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, penggunaan teknologi multimedia sebagai salah satu tuntutan arus globalisasi berkembang sangat pesat. Jenis-jenis teknologi multimedia inipun bermacam-macam dengan variasi fungsi atau asas manfaatnya. Sebagai contoh adalah televisi yang kini menjadi konsumsi umum di setiap rumah tangga, karena sebagian besar masyarakat Indonesia pasti memiliki teknologi ini. Disamping kegunaan televisi sebagai media pemberi informasi, berita, atau yang bersifat edukasi, televisi juga mempunyai manfaat untuk hiburan.
Bagi anak-anak pada tahap praoperasi (umur 2-7 tahun) televisi lebih cenderung berperan sebagai media hiburan. Selain itu acara-acara dalam televisi dengan pengawasan serta penyeleksian acara yang pantas ditonton oleh anak-anak, dapat menambah minat dan wawasan pada anak. Disamping itu, juga dapat menambah pengetahuan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta perkembangan peristiwa yang ada di dunia. Film yang ditayangkan dalam televisi juga ada yang bersifat mendidik, sehingga selain menjadi hiburan, anak juga dapat belajar sikap-sikap yang baik, nilai kemanusiaan, nilai sosial atau keagamaan dan lain sebagainya yang terkandung dalam film tersebut. Walaupun pada kenyataannya acara tersebut masih minin ditayangkan pada stasiun TV nasional, namun dalam hal ini bukan hal itu yang menjadi permasalahan utama. Permasalahannya adalah berapa lama anak menonton TV dan apa pengaruhnya bagi mereka.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Amerika Serikat terungkap bahwa televisi ternyata cuma bagus untuk ditonton pada anak-anak dengan rentang usia tertentu. Pada anak di bawah usia tiga tahun (batita), dampak negatif televisi justru lebih terasa. Terbukti tayangan televisi dapat menurunkan kemampuan membaca, membaca komprehensif, bahkan penurunan memori pada anak. Anak yang terlalu sering menonton televisi akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi yang baik bagi proses tumbuh kembangnya. Sebab, televisi cuma menyodorkan stimulasi satu arah.
Sebaliknya, dampak positif menonton televisi baru terlihat jelas pada anak usia tiga sampai lima tahun. Sebab, pada usia ini kemampuan membaca mereka bisa menjadi lebih baik dengan pola menonton seperti itu. Walaupun demikian masih perlu dicermati kembali dampak-dampak yang bersifat krusial sehingga dapat mempengaruhi perkembangan anak terutama dalam hal motivasi belajar. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai “ Dampak Negatif Televisi Terhadap Perkembangan dan Motivasi Belajar Anak pada Tahap Praoperasi”.

1.2 Rumusan Masalah
Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa masalah yang perlu dikaji dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah dampak negatif televisi terhadap perkembangan dan motivasi belajar anak pada tahap praoperasi?
2. Bagaimanakah langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mengurangi dampak negatif televisi terhadap perkembangan dan motivasi belajar anak pada tahap praoperasi?

1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang permasalahan dan perumusan masalah yang menjadi titik pokok pembahasan, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui dampak negatif televisi terhadap perkembangan dan motivasi belajar anak pada tahap praoperasi.
2. Dapat mengetahui langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mengurangi dampak negative televisi terhadap perkembangan dan motivasi belajar anak pada tahap praoperasi.

1.4 Manfaat Penulisan
Disamping tujuan yang ingin dicapai, penulisan makalah yang berjudul “Pengaruh Negatif Televisi Terhadap Perkembangan dan Motivasi Belajar Anak pada Tahap Praoperasi” ini juga menitikberatkan pada asas manfaat bagi penulis, masyarakat, terutama pada orang tua sebagai penanggung jawab utama sang anak pada tahap praoperasi ini yaitu dapat menambah wawasan atau pengetahuan mengenai dampak negatif televisi terhadap anak, serta mengetahui cara penanggulangannya, sehingga dapat dipakai menjadi pedoman tambahan bagi orang tua dalam hal memantau dan mendidik anaknya sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat menuju kearah yang positif.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tahap Praoperasi (Umur 2-7 Tahun)
Tahap pemikiran praoperasi dicirikan dengan adanya fungsi semiotic, yaitu penggunaan symbol atau tanda untuk menyatakan atau menjelaskan suatu objek yang pada saat itu tidak berada bersama subjek. Secara jelas, cara berpikir simbolik ini diungkapkan dengan penggunaan bahasa pada masa anak mulai berumur 2 tahun. Tahap ini juga dicirikan dengan pemikiran intuitif pada anak. Dengan adanya penggunaan simbol tersebut, seorang anak dapat mengungkapkan dan membicarakan suatu hal yang sudah terjadi. Ia juga dapat membicarakan macam-macam benda dalam waktu yang bersamaan. Dengan penggunaan bahasa, seorang anak dapat mengungkapkan suatu hal yang tidak sedang dilihat. Ia juga dapat dapat membicarakan suatu hal tanpa terikat ruang dan waktu dimana hal itu terjadi. Dengan perkembangan ini, jelas bahwa inteligensi anak makin berkembang.

2.2 Motivasi Belajar
Teori Kebutuhan Maslow, termasuk konsep aktualisasi diri yang ia definisikan sebagai keinginan untuk mewujudkan kemampuan diri atau “keinginan untuk menjadi apapun yang seseorang mampu untuk mencapainya.”. Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humoris, dan mandiri—pada dasarnya, memiliki kesehatan mental yang bagus atau sehat secara psikologis. Maslow menempatkan perjuangan untuk aktualisasi diri pada puncak hierarki kebutuhannya, hal ini berarti bahwa pencapaian dari kebutuhan paling penting ini bergantung pada pemenuhan seluruh kebutuhan lainnya. Kesukaran untuk memenuhi kebutuhan ini di akui oleh Maslow, yang memperkirakan bahwa lebih sedikit dari 1 persen orang dewasa yang mencapai aktualisasi diri.
Karena manusia memiliki banyak kebutuhan, pada waktu tertentu kebutuhan manakah yang mereka coba untuk dipenuhi. Maslow mengemukakan hierarki atau tingkatan kebutuhan yang terdiri atas dua bagian utama yaitu: (1) kebutuhan dasar, berada pada hierarki paling bawah, berturut-turut terdiri dari (a) kebutuhan fisiologis; (b) kebutuhan akan rasa aman; ( lebih banyak dapat menjadi besar.c) kebutuhan untuk dicintai; (d) kebutuhan untuk dihargai ; dan (2) kebutuhan tumbuh, yang berada di atas kebutuhan dasar, berturut-turut dari bawah terdiri dari: (a) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami; (b) kebutuhan keindahan; (c) kebutuhan aktualisasi diri.
Menurut teori kebutuhan Maslow, kebutuhan yang berada pada hierarki lebih paling bawah tidak harus dipenuhi sebagian sebelum seseorang akan mencoba untuk memiliki kebutuhan yang lebih tinggi tingkatannya. Sebagai misal seorang yang lapar atau seorang yang secara fisik dalam bahaya tidak begitu menghiraukan ntuk mempertahankan konsep diri positip (gambaran terhadap diri sendiri sebagai orang baik) dibandingkan untuk mendapatkan makanan atau keamanan; namun begitu, orang yang tidak lagi lapar atau tidak lagi dicekam rasa takut, kebutuhan akan harga diri menjadi penting.
Satu konsep penting yang diperkenalkan Maslow adalah perbedaan antara kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh. Kebutuhan dasar (fisiologis, rasa aman, cinta, dan penghargaan) adalah kebutuhan yang penting untuk kebutuhan fisik dan psikologis; kebutuhan ini harus dipenuhi. Sekali kebutuhan ini dipenuhi, motivasi seseorang untuk memenuhi kebutuhan ini surut. Sebaliknya kebutuhan tumbuh, sebagai misal kebutuhan untuk mengetahui dan memahami sesuatu, menghargai keindahan, atau menumbuhkan dan mengembangkan apresiasi (penghargaan) dari orang lain, tidak pernah dapat dipenuhi seluruhnya. Dalam kenyataannya, semakin orang dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk mengetahui dan memahami dunia di sekeliling mereka, motivasi belajar mereka dapat menjadi semakin besar dan kuat.

2.3 Televisi
Pengertian televisi itu sendiri dapat diartikan sebagai sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision, yang mempunyai arti masing-masing jauh ( tele ) dan tampak ( vision ). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi itu sendiri dapat disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini dapat merubah peradaban dunia. televisi selalu indentik dengan kata siaran televisi, dimana menurut Surat Keputusan Menteri Penerangan Republik Indonesia Nomor : 54 / B KEP / MENPEN / 1971 tentang penyelenggaraan Siaran Televisi di Indonesia siaran televisi berarti siaran-siaran dalam bentuk gambar dan suara yang dapat ditangkap ( dilihat dan didengarkan ) oleh umum baik dengan system pamancaran dalam gelombang-gelombang elektro-magnetik maupun lewat kabel-kabel. Jenis televisi itu sendiri ada yang yang berupa televisi analog dan televisi digital, ada juga yang disebut dengan televise kabel dan televise satelit. Televisi analog mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase / frekuensi dari signal. Seluruh system sebelum televisi digital dapat dimasukkan ke analog. Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog adalah NTSC (National Television System(s)) Committee, badan industri pembuat standar yang menciptakannya. Sistem ini sebagian besar diteraapkan di Amerika Serikat (AS) dan beberapa bagian Asia Timur, seperti: China/Tiongkok, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia. Sementara, sistem PAL (Phase-Alternating Line, phase alternation by line atau untuk phase alternation line). Dalam bahasa Indonesia: garis alternasi fase), adalah sebuah encoding berwarna digunakan dalam sistem televisi broadcast, digunakan di seluruh dunia. PAL dikembangkan di Jerman oleh Walter Bruch, yang bekerja di Telefunken, dan pertama kali diperkenalkan pada 1967.
Televisi digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV) adalah jenis TV yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi. Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. Ia memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali standar analog PAL yang digunakan di Indonesia. Televisi kabel adalah sistem penyiaran acara televisi lewat frekuensi radio melalui serat optik atau kabel coaxial dan bukan lewat udara seperti siaran televisi biasa yang harus ditangkap antena. Selain acara televisi, acara radio FM, internet, dan telephon juga dapat disampaikan lewat kabel. Televisi satelit adalah televisi yang dipancarkan dengan cara yang mirip seperti komunikasi satelit, serta bisa disamakan dengan televisi lokal dan televisi kabel. Di banyak tempat di bumi ini, layanan televisi satelit menambah sinyal lokal yang kuno, menghasilkan jangkauan saluran dan layanan yang lebih luas, termasuk untuk layanan berbayar.






BAB III
METODE PENULISAN

Metode Studi Pustaka
Dalam penulisan makalah yang berjudul “Pengaruh Negatif Televisi Terhadap Perkembangan dan Motivasi Belajar Anak pada Tahap Praoperasional” ini, ini penulis memanfaatkan buku panduan Perkembangan Peserta Didik sebagai salah satu sumber. Sumber lainnya adalah melalui browsing internet. Melalui browsing ini penulis memperoleh banyak data dan informasi yang berhubungan dengan makalah ini.


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Dampak Negatif Televisi Terhadap Perkembangan dan Motivasi Belajar Anak pada Tahap Praoperasi
Televisi adalah sebuah teknologi atau alat komunikasi yang dapat merubah kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat. Dalam hal ini, teknologi televisi bukan sekedar sebagai proses transmisi gambar-gambar secara teknis, namun juga sebagai medium komunikasi massa yang berfungsi social. Televisi sebagai lembaga yang menyiarkan acara-acara siaran sebagai dua hal yang tak terpisahkan, yaitu televisi sebagai lembaga, sebagai medium dan siaran televisi sebagai proses komunikasi.
Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang cenderung terus meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik pada orang dewasa dan terutama pada anak-anak. Banyak sisi positif yang dihasilkan dari hadirnya teknologi televisi sekarang ini, namun sisi negatifnya tidak sedikit juga.
Televisi memancarkan sinar biru yang juga dihasilkan oleh matahari. Namun sinar biru ini berbeda dengan sinar ultra violet. Sinar biru tak membuat mata mengedip secara otomatis. Namun parahnya, sinar biru langsung masuk ke retina tanpa filter. Panjang gelombang cahaya yang dihasilkan adalah 400-500nm sehingga berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan melukai fotokimia pada retina mata anak. Sepuluh tahun kemudian saat anak sudah dewasa, kerusakan yang ditimbulkan oleh sinar biru terlihat amat jelas. Retina mata tak lagi bening sehat seperti masa kanak-kanak sehingga kemampuan berfungsinya pun menjadi juga berkurang.
Disamping itu, televise juga berpengaruh terhadap perkembangan otak anak usia 0 - 3 tahun yaitu dapat menimbulkan gangguan perkembangn bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dlm mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5 - 10 thn, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.
Selain itu, televisi dapat mendorong anak menjadi konsumtif dimana anak-anak merupakan target pengiklan utama sehingga mendorong mereka menjadi komsumtif. Anak menjadi pasif dan tidak kreatif karena mereka kurang beraktivitas dan hanya duduk di depan TV. Hal ini menyebabkan kemampuan berpikir dan kreativitas anak tidak terasah. Dampak lain bagi perkembangan fisik anak adalah anak cenderung kegemukan karena yang pada umumnya terjadi adalah mereka biasanya menonton TV sambil makan cemilan terus menerus tanpa terasa. Menjadi efek " candu " adalah dampak terburuk dari televise dimana kecanduan menonton TV, bisa melupakan segalanya. Anak sampai tidak mau bermain di luar dengan lingkungan sekitarnya serta bersosialisasi dengan teman sebayanya sehingga dapat berpengaruh terhadap perkembangan emosionalnya. Dan akibat yang utama adalah dapat mengurangi semangat belajar. Jika anak sudah kecanduan menonton televisi maka akan menyebabkan berkurangnya waktu belajar dan cenderung malas belajar sehingga akan memberi efek pada prestasinya di sekolah. Menonton televisi dengan waktu yang tidak efektif menyebabkan terbentuknya pola pikir sederhana pada anak. Terlalu sering nonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana dan lamban.

4.2 Langkah-Langkah yang Dapat Ditempuh Untuk Mengurangi Dampak Negative Televisi Terhadap Perkembangan dan Motivasi Belajar Anak pada Tahap Praoperasi
Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, hal-hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Beri batasan waktu untuk menonton televisi. Kapan ia boleh dan kapan waktunya ia harus berhenti menonton televisi. Untuk anak prasekolah, kondisi tersebut mungkin agak sulit karena pada usia tersebut anak sudah mulai bisa membantah. Cobalah membuat kesepakatan bersama mengenai batasan-batasannya. Misalnya jenis tayangan yang ia inginkan dan lamanya waktu menonton. Untuk batita, tetapkan batasan waktunya, yaitu cukup satu jam sehari. Sedangkan untuk usia prasekolah boleh menonton televisi kurang dari dua jam sehari.
2. Manfaatkan waktu yang sedikit tersebut sekaligus sebagai sarana belajar anak. Duduklah bersama anak dan diskusikan isi tayangan pilihannya.
3. Siapkan kegiatan alternatif pengganti agar anak tidak lagi merengek dan kembali menonton televisi.
4. Tanamkan nilai-nilai keluarga secara berulang agar anak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya sehingga anak lebih percaya diri menghadapi teman-temannya.

4 komentar:

  1. a night i write this...what a recor ckckckck

    BalasHapus
  2. wew.., artikel keren nih..! :)
    coba kalau konsisten menulis blog dengan artikel2 yg seperti ini, pasti banyak pengunjung..!

    BalasHapus
  3. sains, teknologi, informasi, sosial budaya, ekonomi.. masuknya kemana?? sosial budaya or teknologi kah?? O.o
    thanks sis...
    >___<V

    BalasHapus
  4. makasih ya aku bisa copas langsung, jadi tugas sekolah selesai langsung.... HOREEEE

    BalasHapus